Saturday, January 14, 2012

Cara download file torrent dengan Full speed

Nah, bagi kamu yang ingin download file dari torrent, bisa pake salah satu software ini. Berikut report dari temen ane.,

Salah satu kelebihan file dari torrent sharing adalah mereka lebih capat menyediakan link file2 baru buat download, tetapi terkadang untuk kita di indonesia kecepatan downloadnya kurang maksimal, ada cara jitu buat dapetin speed maksimal dari file yang didownload dari torrent, yaitu dengan minta bantuan situs torrific.com (dahulu Btaccel) untuk me-remote download file yang kita inginkan, cara kerjanya mungkin agan-agan sudah pada tau x, yaitu file torrent yang diinginkan akan didownload ke servernya torrific, lalu setelah selesai baru kita dikasi direct link buat download, dan yang asik adalah support resum dan kecepatanya itu loh (lihat skrinsut dibawah
test Cara Download File Torrent Dengan Full Speed
aku pake koneksi internet dari smart paket upto 3,1MB/sec diluar jakarta

untuk file-file torrent yang banyak dicari maka biasanya kamu tdk perlu nunggu buat dapet link direct-nya, karena sudah ada di server chache-nya torrific, semakin banyak orang nyari smakin lama tuh file nongkrong disana

Yak, untuk donlot software nya silahkan ke torrific.com
read more

Esai sastra

Esai sastra adalah karangan prosa yang mengupas secara sepintas namun akurat, padat, dan berisi mengenai masalah kesusastraan, seni, dan budaya dari sudut pandang penulisnya secara subjektif.

Cara membuat esai:

tentukan tema yang paling Anda kuasai;
carilah bahan;
buatlah outline atau poin-poin yang akan Anda bicarakan;
tentukan judul;
mulailah mengembangkan kerangka karangan.

Cara mengembangkan kerangka karangan esai:

untuk memudahkan karangan, mulailah dengan sebuah definisi;
kembangkan karangan dengan deskripsi situasi;
masukan pandangan seorang ahli;
buatlah kalimat-kalimat tunggal dan kalimat majemuk setara atau bertingkat dengan struktur yang sederhana;
untuk memudahkan menguraikan paragraf gunakan paragaraf-paragraf deduktif;
esai biasa adalah karangan argumentasi.

Contoh kumpulan buku esai sastra yang bisa dijadikan referensi adalah, Menjadi Manusia karya Yakob Sumarjo, Si Parasit Lajang karya Ayu Utami, Obsesi Perempuan Berkumis karya Budi Darma. Anda juga bisa melihat contoh esai sastra di media massa seperti Kompas, Pikiran Rakyat, dan lain-lain yang biasa muncul hari Minggu di lembar budaya. Di lembar Khazanah koran Pikiran Rakyat sering muncul esai sastra atau kritik sastra.

Contoh esai sastra yang akan saya jadikan referensi adalah esai yang dimuat di Harian Umum, Pikiran Rakyat, Minggu 17 Oktober 2010, dengan Judul Kemat Jaran Guyang ditulis oleh Supali Kasim. Wakil Ketua Lembaga Bahasa dan Sastra Cirebon.

Dalam esai tersebut beliau mengatakan bahwa nyaris tidak ada sastra cirebon ditemukan dalam bentuk penerbitan media massa maupun buku. Kalau pun ada, hanya dalam satu kolom kecil di suatu koran yang dimuat terbatas dan dicetak sederhana. Karya sastra cirebon ibaratnya hanya ditulis dan didokumentasikan di rumah penulisnya, tanpa mengetahui bagaimana harus diterbitkan.

Karya sastra yang dilahirkan pengarang sulit untuk dipublikasikan di media massa. Penerbit pun terbentur dengan kecilnya pangsa pasar. Hal ini berbeda dengan karya sastra sunda dan karya sastra jawa yang banyak dibahas dimana-mana, bahkan banyak media massa yang berbahasa tersebut, seperti Mangle, Galura, Sipatahuan, Kujang Giwangkara.

Dukungan secara akademis pun cukup signifikan. Beberapa perguruan tinggi pun membuka jurusan Bahasa dan Sastra Sunda yakni Unpad dan UPI, sementara jurusan Bahasa dan Sastra Jawa antara lain di UGM, UNY, dan UNS. Namun siapa yang peduli pada perkembangan sastra cirebon, yang jelas berbeda dengan sastra sunda maupun jawa, ujarnya di dalam esainya.

Menyikapi kalimat yang sedikit sinis terhadap sastra sunda dan sastra jawa, hal ini berarti Supali ingin sedikit menggelitik pemerintah agar sedikit peduli terhadap sastra cirebon yang terpinggirkan. Mungkin lama-lama sastra cirebon akan punah dan hilang ditelan zaman dan bangsa Indonesia akan kehilangan sebuah budaya.

Supali memberikan sebuah analogi yang tepat dalam sebuah Drama Tarling Abdul Ajib khas Cirebon yang berjudul Nasib Baridin, yang cintanya ditolak mentah-mentah oleh gadis pujaannya karena kemiskinan. Padahal sebagai pribadi, Baridin tergolong orang yang ulet dan tulus cintanya. Diam-diam, gadis yang ditaksirnya, Suratminah seperti memberikan harapan. Sampai-sampai ajian Kemat Jaran Guyang pun dilakukan untuk menaklukan gadis itu.

Lalu, Supali memberikan gambaran wilayah Cirebon dan perkembangan sastra dan budayanya yang kembang-kempis dalam esai.

Nah, dalam esai sastra, kita sebagai penulis boleh berpendapat sesubjektif mungkin asal disertai data dan fakta yang masuk akal sehingga pembaca merasa yakin dengan apa yang kita ungkapkan.

Dalam sebuah esai pun kita boleh memberikan solusi terbaik mengenai masalah yang dibahas, sehingga esai tidak hanya berupa kritik atau keluhan saja tentang fenomena yang terjadi dalam lingkungan sosial budaya masyarakat.
read more

21 Fakta-Fakta Unik Tentang Jepang

1. Di Jepang, angka “4″ dan “9″ tidak disukai, sehingga sering tidak ada nomer kamar “4″ dan “9″. “4″ dibaca “shi” yang sama bunyinya dengan yang berarti “mati”, sedang “9″ dibaca “ku”, yang sama bunyinya dengan yang berarti “kurushii / sengsara.

2. Orang Jepang menyukai angka “8″.Harga-harga barang kebanyakan berakhiran “8″. Susu misalnya 198 yen. Tapi karena aturan sekarang ini mengharuskan harga barang yang dicantumkan sudah harus memasukkan pajak, jadi mungkin kebiasaan ini akan hilang. (Pasar = Yaoya = tulisan kanjinya berbunyi happyaku-ya atau toko 800).

3. Kalau musim panas, drama di TV seringkali menampilkan hal-hal yang seram (hantu).

4. Cara baca tulisan Jepang ada dua style : yang sama dengan buku berhuruf Roman alphabet huruf dibaca dari atas ke bawah, dan yang kedua adalah dari kolom paling kanan ke arah kiri. Sehingga bagian depan dan belakang buku berlawanan dengan buku Roman alphabet (halaman muka berada di “bagian belakang”).

5. Tanda tangan di Jepang hampir tidak pernah berlaku untuk keperluan formal, melainkan harus memakai hanko/inkan/ cap. Jenis hanko di Jepang ada beberapa, a.l. jitsu-in, ginko-in, dan mitome-in. Jadi satu orang kadang memiliki beberapa jenis inkan, untuk berbagai keperluan. Jitsu-in adalah inkan yang dipakai untuk keperluan yang sangat penting, seperti beli rumah, beli mobil, untuk jadi guarantor, dsb. jenis ini diregisterkan ke shiyakusho. Ginko-in adalah jenis inkan yang dipakai untuk khusus membuat account di bank. inkan ini diregisterkan ke bank. Mitome-in dipakai untuk keperluan sehari-hari, dan tidak diregisterkan.

6. Kalau kita membubuhkan tanda tangan, kadang akan ditanya orang Jepang: ini bacanya bagaimana ? Kalau di Jepang saat diperlukan tanda tangan (misalnya di paspor, dsb.) umumnya menuliskan nama mereka dalam huruf Kanji, sehingga bisa terbaca dengan jelas. Sedangkan kita biasanya membuat singkatan atau coretan sedemikian hingga tidak bisa ditiru/dibaca oleh orang lain.

7. Acara TV di Jepang didominasi oleh masak memasak.

8. Fotocopy di Jepang self-service, sedangkan di Indonesia di-service.

9. Jika naik taxi di Jepang, pintu dibuka dan ditutup oleh supir. Penumpang dilarang membuka dan menutupnya sendiri.
10. Pernah nggak melihat cara orang Jepang menghitung “satu”, “dua”, “tiga”…. dengan jari tangannya ? Kalau agan-agan perhatiin, ada perbedaan dengan kebiasaan orang Indonesia. Orang Indonesia umumnya mulai dari tangan dikepal dan saat menghitung “satu”, jari kelingking ditegakkan. Menghitung “dua”, jari manis ditegakkan, dst. Kalau orang Jepang, setahu saya, kebalikannya. Mereka selalu mulai dari telapak tangan terbuka, dan cara menghitungnya kebalikan orang Indonesia. Saat bilang “satu”, maka jarinya akan ditekuk/ditutupkan ke telapak tangan. Kalo nggak percaya, coba deh… jikken dengan teman Jepang anda.
11. Sepeda tidak boleh dipakai boncengan, kecuali yang memboncengkannya berusia lebih dari 16 tahun dan anak yang diboncengkan berusia kurang dari satu tahun dan hanya seorang saja yang diboncengkan. Bila dilanggar, dendanya maksimal 20 ribu yen.
12. Kalo naik eskalator di Tokyo, kita harus berdiri di sebelah kiri, karena sebelah kanan adalah untuk orang yang terburu-buru. Jangan sekali-kali berdiri di kanan kalo kita ga langsung naik.
13. Pacaran di Jepang sungguh hemat, traktir2an bukan budaya pacaran Jepang. Jadi selama belum jadi suami-istri, siapin duit buat bayar sendiri-sendiri.
14. Nganter jemput pacar juga bukan budaya orang Jepang. Kalo mau ketemuan, ya ketemuan di stasiun.
15. Jangan pernah sekali-kali bilang ke orang jepang : “Gue maen ke rumah lu ya”. Karena itu dianggap ga sopan. Ke rumahnya cuma kalo udah diijinin.
16. “Aishiteru” yang berarti aku cinta kamu, jarang dipake sama orang pacaran, kecuali kalo mereka bener-bener udah mau nikah. Biasanya mereka make “Daisuke desu” buat ngungkapin kalo mereka sayang sama pacarnya.
17. Sebelum bepergian, biasanya orang Jepang selalu ngecek ramalan cuaca. Dan 90% ramalan cuaca itu akurat. Itu sebabnya kalo ada orang bawa payung, pasti kita bakal liat orang yang lainnya lagi bawa payung juga. Dan perempatan Shibuya adalah tempat yang paling menarik ketika hujan, karena dari atas kita akan melihat lautan payung yang berwarna-warni.
18. Bunga sakura adalah bunga yang spesial di Jepang, karena bunganya hanya tumbuh 2 minggu selama setahun. Ketika tumbuh, bunganya memenuhi seluruh pohon, tanpa daun. Setelah 2 minggu, ga ada satupun bunga sakura, yang ada hanyalah daun-daun hijau, tanpa bunga, dan jadi ga menarik lagi.
19. Di Indonesia, kita bakal dapet duit kalo kita ngejual barang bekas kita ke toko jual-beli. Tapi di Jepang, kita malah harus bayar kalo mau naro barang kita di toko jual-beli. Itulah sebabnya kenapa orang Jepang lebih milih ninggalin TV bekas mereka gitu aja kalo mo pindah apartemen.
20. Di perempatan jalan Kyoto, perempatan jalan yang kecil, ga ada mobil sama sekali, tapi ada lampu merah, pejalan kaki selalu berhenti ketika lampu tanda pejalan kaki menunjukkan warna merah. Mereka santai aja, baca koran, ngobrol, ngerokok, dan kemudian jalan lagi ketika lampu sudah hijau. Padahal ga ada mobil yang lewat satupun. Mungkin kalo mereka ngelanggar peraturan juga ga akan celaka. 21. Mereka ga percaya Tuhan (mayoritas atheis), tapi mereka bisa disiplin dan taat sama peraturan. Mungkin karena itu negara mereka maju.
read more
Blogger Template by Clairvo